Monday, March 23, 2015
Wednesday, December 10, 2014
Coba deh liat keatas,
Kurang tinggi,
Kurang...
-
-
-
-
Kurang...
Masih kurang...
Tinggian lagi!!
-
-
-
-
Masih kurang...
Coba aja bisa ke atas sana ya, pasti menyenangkan, karena 'diatas' bagus-bagus banget.
...that's why we can't own the sky. Be grateful, self!
Sunday, December 7, 2014
Sunday, November 30, 2014
Friday, November 28, 2014
Brain: I should sleep, I should sleep, I should sleep
Heart: Not now self, learn several chapters left.
Me: SEVERAL???!!!!!
*happen almost in every mid-exam's night, lately I don't make it so well, here's little regret.
Tuesday, November 25, 2014
Sunday, November 23, 2014
Monday, November 17, 2014
Sunday, November 16, 2014
Friday, November 14, 2014
Di dalam senyummu, ku dengar bahasa kalbumu
Mengalun bening menggetarkan
Kini dirimu yang selalu... Bertahta di benakku
Dan aku kan mengiringi..
Bersama..
Di setiap langkahku..
Itu adalah penggalan lagu Bahasa Kalbu milik Titi DJ yang sering aku dengarin waktu kecil, yang dulu juga jadi soundtrack sinetron Cinta yang jarang aku lewatin, yang aku hapal jam tayangnya (iya, ketauan banget udah tua :D)
Aku adalah satu dari sedikit orang yang sering merindukan masa lalu, merasa menyesal karena dulu nggak seperti ini atau seperti itu, iya, masih ada orang yang melakukan hal nggak penting gini jaman sekarang, walaupun nggak semua kejadian yang aku ingat, kalo aku ngebayangin masa lalu, yang pertama kali terpikir adalah lagu yang tren di jaman itu, film yang aku tonton, novel yang aku baca, and art affects my life so well, secara aku suka fiksi, romance, and mostly related with mellowish, jadi kalo ingat masa-masa aku lagi suka banget main sepeda waktu itu kalo gak salah tahun 2003, itu pas musimnya lagu Agnes Monica yang judulnya jera, atau aku pernah suka banget sama soundtrack AADC yang Denting dan itu ngetrennya waktu itu aku inget pas kakak sepupu nikah dan diputerin repeat di malam reception day-nya, iya, semua orang pasti punya cara beda-beda untuk "connect" sama masa lalunya, dan aku gak yakin ada orang lain yang seperti aku but I hope there's if it's not million, at least there's hundred or thousand ones like me so I ain't feel so creepy -___-
Bahasa Kalbu yang direpeat dari tadi berhasil bawa aku memutar lagi slide-slide memori masa kecil aku yang biasa, slide demi slide hingga sampai di masa-masa indah ketika Ayah masih ada, slide yang memasang gambarnya yang udah buram banget kalo gak bisa dibilang kabur, sekitar empat atau lima tahunan umurku dulu, waktu masih sering digendong ayah dan ayah nyanyi di depan cermin, dari mulai lagu yang pake lirik sampe cuman terereng terereng doang tapi karena gaya ayah yang lucu jadi bikin aku selalu ketawa, it sounds silly enough now, mengingat keterbatasan kami waktu itu yang bikin aku gampang aja ketawa sama hal yang bahkan nggak lucu, atau aku masih terlalu kecil, atau juga karena itu memang lucu.
And so I miss my dad right now, he did his part the best he could, ayah selalu menjadi ayah yang baik, bertanggung jawab, memberikan yang terbaik, sampai anak-anaknya yang walaupun masih juga kayak aku yang tidak membanggakan, tapi aku masih berusaha untuk tidak menyusahkan sampe sekarang, buat aku, ayah itu superhero, penolong aku dimanapun, aku terdidik manja tapi udah biasa ngurus apa-apa sendiri, dan kalo ujung-ujungnya gak bisa aku tanganin, ayah selalu ada untuk menyelesaikan dan ngasih yang aku mau, sosok ini adalah yang paling aku rindukan, yang paling aku butuhkan tapi aku sadar aku nggak bisa melawan takdir, dan pilihan terakhir yang aku punya hanya mengatur puzzle puzzle yang masih berantakan hingga "ikhlas" itu tersusun sempurna dan kokoh.
Sudah 3 tahun, 7 bulan, 13 hari aku sama sekali tidak pernah melihat sosoknya lagi, selama itu juga aku belajar menepati janjiku terakhir pada ayah, bahwa aku akan berubah menjadi baik, walaupun hasilnya belum begitu sempurna, setidaknya ayah, anakmu ini bukan lagi pemalas, yang suka menggunting-gunting kertas untuk dijadikan hiasan kamar dan tidur jam empat pagi, yang suka mutarin musik keras-keras kalo lagi suka sama lagu baru, dan aku masih selalu ingat ayah asal dengar For The First Time-nya The Script--lagu terakhir yang aku putar keras sambil sing along trus dimarahin ayah :(
Kadang begitu sulit untuk survive pada pilihan yang udah aku buat sendiri, dan butuh sandaran untuk menceritakan hal ini, dan membayangkan seandainya ayah masih ada disini untuk aku ceritakan semuanya, menjadi penampung air mata yang seringkali hanya kering dan tidak terlihat ditengah pekatnya malam, menjadi tempatku mencurahkan semuanya seperti dulu, even suprised to me how it seems like I'm a daddy's girl type enough, yes I was, if I can end this with a wish, I wish I could make you proud the way you always made me proud to have your figure, to make you write to me as well, to make you come to my dream, because I haven't close any side of my dream for you to come, but you never there, I wish tonight you will.. Please..
**** this is more than just a tribute for Father's day I wish I could write earlier right in november 12, this is not, I just miss my dad. :)
Sunday, November 2, 2014
Pagi masih muram sisa hujan semalam, hati masih semrawut dan pikiran masih berantakan sisa kegelisahaan dua hari weekend belakang, aku masih ditempat yang sama dan (lagi) ingin mengajukan beberapa pertanyaan, tapi terakhir kali ku lakukan masih juga tanpa jawaban, aku sudah sering diabaikan dan sudah terbiasa kebingungan, mereka sering melihatku aneh dan aku bersumpah mereka sering mencibirku dan merasa bahwa kekhawatiranku tidak beralasan, sungguh, apa yang mereka tau? Aku tidak ingin kehilangan, maka ketidakjujuranku beralasan, aku tidak ingin titik terlemahku diketahui orang, maka aku diam, dan diamku hanya menetralkan, gejolakku yang ingin berteriak dan hati yang slalu berbisik untuk bersabar sedikit lagi, menetralkan, mendinginkan kepalaku yang panas dan otakku yang susah diajak kompromi untuk berfikir jernih. Aku tidak berpikir kehidupan sudah lancang mengambil semuanya dariku, bukan juga aku merasa paling menyedihkan, satu jam dari sekarang aku akan bertemu dengan mereka yang harus lebih keras berjuang dariku, tapi bukan itu intinya, kadang manusia memang ingin diam dan memastikan mengapa aku dianggap tidak pantas, mengapa banyak hal tidak berlaku untukku, kadang, bukan itu juga intinya, kadang mengapa sikapku seperti tidak layak dipahami?
Friday, October 31, 2014
Lagi pengen ngomongin soal passion, passion itu buat aku sejenis hal yang udah duluan hilang sebelum bener-bener aku perjuangkan. Ok, let's name it, dari dulu aku suka nulis, even I'm bad with it, dari dulu selalu suka pelajaran bahasa inggris, walau untuk translate jurnal yang disuruh dosen pun susah, dari dulu kepengen kuliah di harvard, no I'm serious, walopun gak pernah mikir jurusan apa karena yang aju suja tentang harvard cuma sebatas view dan sedikit yang aku tau tentabg nature-nya, dari kecil pengen jadi psikolog dan ngetes dijurusab itu dua kali dan gagal di tahun 2011, dari dulu selalu suka liat acara tv jalan-jalan yang hostnya selalu ke tempat-tempat eksotis dan tau tentang yang gak semua orang tau tentang hal tersebut dan pengen juga seperti itu walaupun wilayah terdekat di Aceh aja gak terjangkau buat aku. It seems impossible, especially now, I didn't choose my passion, I choose what keeps me walking, begitu lulus SMA, dan sadar kalo untuk bisa keterima di suatu perguruan tinggi susah, aku jadi gak mau macem-macem, yang penting keterima aja udah sukur, cukup rejeki buat kuliah aja udah alhamdulillah, lagian, aku sadar untuk nurutin passion kayak gitu mengharuskan aku untuk punya pergaulan yang lebih luas, which is bad to me, kadang-kadang ngerasa, untuk punya temen yang bisa bertahan lebih dari satu-dua tahun aja udah sukur, I'm that very less common sense person, dan setelah menjalani ini udah tiga tahun setelah lulus SMA, wara wiri di diploma 1 di tahun pertama dan udah ditingkat 3 universitas sekarang, semuanya masih belum terlalu jelas, I even forgot what I reallly feel passionate with, I keep walking, dan kalo ditanyai mau jadi apa, buram, banget.
I once ever feel so jealous dengan orang yang dapet kerjaan sesuai passion dan hobi tapi tetep dapet uang banyak--nggak bisa dipungkiri memang, to live in this place, uang itu adalah salah satu tolak ukur seseorang sukses apa enggak, dan di lingkungan ini juga passion gak terlalu dipedulikan, tiap orang dituntut sekolah bagus tinggi tinggi, trus dapat kerjaan bagus lalu ngumpulin duit sebanyak-banyaknya, as a person, I dont wanna be a hypocrite, I need money, I really wish to have a job that makes me earn lot, lots of money, gak peduli mau sesuai passion atau nggak, toh, selama dua tahun ini, aku udah selalu berjuang menghadapi bosan karena sering merasa salah jurusan, kan? Kadang sampe mual saking bosannya dan selalu ngerasa ini sia-sia, but I don't give up, something can't be real until we give it a try, so I tried, I tried to punch back anything seems punched me so hard in here, pada akhirnya, saya juga ingin terlihat kuat dan menjadi pemenang, pada akhirnya, saya rasa untuk bisa kuliah aja sudah merupakan anugerah so I embrace it and never gonna take it for granted.
Pada akhidnya, yang dikejar adalah rasa selalu ingin membuktikan diri, to prove that I can to whoever has underestimated me, no passion left, dari mulai nggak pernah mikir akan nulis buku lagi, nggak pernah penden main-main, selalu serius dan fokus, dan berharap suatu saat yang aku jalani sekarang udah yang terbaik, yang aku seriusin sekarang adalah yang benar-benar bisa 'membantu' kehidupan aku suatu saat nanti.
But, to see 9gag's twitter pic this morning is emotionally punch me down, I miss my thoughts, my pass life, how I create my mindset good to always stay straight in my dreams, work for that, and even it's still impossible, I realized maybe I just never have done anything, I never truly see how it works around here, or I skipped my passion to anything I said keeps me walking, apapun yang nggak bisa aku miliki aku akui karena aku gak terlalu memperjuangkannya, whether it was so hard or it's me always feel tough, it's not happen to me. But I can say for this chance--I always love to say this is my last chance to keep me work so hard, I'd never take this for granted, the future awaits now, I need to prove to myself first that I can do it, and I'd do it, done this well and think my another step to chase, and do it even better, so, yeah, it's my passion now.




